Lo pernah nggak sih ngerasa pengen bikin sesuatu yang gede, tapi sadar sendiri nggak mungkin? Nah, di 2026, banyak orang mulai sadar bahwa seni nggak harus jadi proyek solo. Justru ketika ribuan orang—dengan latar belakang, kemampuan, dan cerita yang beda-beda—ikut nimbrung, hasilnya bisa jadi sesuatu yang nggak cuma indah, tapi juga berarti. Collaborative art bukan tren baru sebenarnya. Tapi di 2026, skalanya udah beda level. Dari tambak garam di Rembang sampai layar HP di 141 negara.
Ketika Petani Garam dan Seniman Jadi Satu Tim
Coba bayangin ini: tambak garam seluas 1.880 meter persegi di Desa Dasun, Lasem, Rembang, disulap jadi lukisan raksasa. Bahannya? Sekitar 8 sampai 9 ton garam kristal putih. Yang bikin? Sepuluh seniman dari Jakarta, Jatiwangi, Yogyakarta, Pati, Jepara, dan Kediri—bareng petani garam setempat .
Yang menarik bukan cuma skalanya. Tapi prosesnya. Mereka nggak cuma “seniman bikin sketsa, petani bantu angkat garam.” Nggak. Kurator Festival Garam, Eggy Yunaedi, bilang kolaborasi itu udah dimulai sejak perumusan gagasan. “Kolaborasi bukan hanya saat pembuatan lukisan, tetapi sejak awal perumusan gagasan,” katanya .
Dan hasilnya? Lukisan itu menggambarkan ekosistem pesisir—ikan, kepiting, cumi-cumi, plankton, hutan mangrove, aktivitas petani garam, sampai tradisi sedekah laut. Karya bertajuk Lukisan Garam (Meneruskan) Nasirun ini dikembangkan dari sketsa maestro seni rupa Nasirun yang meninggal Agustus 2026 . Jadi ada warisan, ada kolaborasi, ada komunitas. Semuanya jadi satu.
Kepala Desa Dasun, Sujarwo, bilang festival ini sengaja digelar pas panen raya garam. Tujuannya: “agar garam ini tidak hanya dipandang sebelah mata. Garam ternyata mampu memberikan penghidupan yang nyata dari kakek nenek hingga saat ini” . Jadi seni di sini bukan cuma estetika. Dia jadi alat untuk ngomong bahwa profesi petani garam itu bermartabat.
11 Ribu Orang, 141 Negara, Satu “Last Supper”
Kalau di Rembang kolaborasinya fisik dan lokal, di dunia digital skalanya beda lagi. Sebuah proyek global lagi nyoba bikin mosaik digital dari lukisan The Last Supper karya Leonardo da Vinci. Caranya: gambar itu dipecah jadi satu juta kotak digital, dan tiap orang bisa “klaim” satu kotak pakai foto mereka sendiri .
Sampai Juni 2026, udah ada 11.323 orang dari 141 negara yang ikut. Lebih dari 17.200 di antaranya gabung karena diajak teman atau keluarga . Yang bikin gue respect: proyek ini awalnya cuma ide marketing buat film Leonardo da Vinci yang dibikin Harrison Powell. Tapi responsnya jauh di luar ekspektasi.
Powell bilang sesuatu yang cukup menyentuh: “Selama berabad-abad, orang cuma bisa melihat The Last Supper dari jauh. Proyek ini ngasih kesempatan buat masuk ke dalam cerita lukisan itu, bantu melengkapinya” . Jadi bukan cuma soal “ikut-ikutan.” Ada rasa memiliki. Ada rasa bahwa karya besar itu, yang biasanya cuma bisa dikagumi dari balik kaca museum, sekarang bisa lo sentuh—secara digital, tapi tetap terasa personal.
Kolaborasi yang Nggak Cuma Soal Seni, Tapi Soal Bertahan
Tapi collaborative art yang paling ngena buat gue justru yang skalanya kecil, tapi dampaknya dalem.
Di Chase Farm Hospital, Enfield, Inggris, ada mural berjudul “Behind the Mask”. Yang bikin? Pasien dan staf di bangsal psikiatri Devon Ward. Prosesnya: dua belas minggu sesi art therapy, di mana para pasien—kebanyakan laki-laki yang pernah mengalami trauma—ngobrol soal “topeng” yang mereka pakai buat bertahan hidup. Hasil diskusi itu jadi mural yang nampilin topeng-topeng dari berbagai budaya, dihias bareng-bareng .
Fiona Grainger, art psychotherapist yang memimpin sesi itu, bilang: “Grup ini jadi ruang aman buat para pria ngomong soal apa yang ada di balik topeng mereka.” Dan muralnya bukan cuma “karya seni.” Dia jadi penanda bahwa mereka ada, bahwa mereka bertahan, dan bahwa mereka nggak sendirian .
Hal serupa terjadi di Wandsworth CAMHS, London. Selama enam minggu, seniman Shiza Naveed kerja bareng pasien muda dan staf. Tiap sesi dimulai dengan latihan grounding—berhenti, napas, sadar perasaan. Baru setelah itu mereka gambar di tiles heksagon. Hasilnya? Mural yang dipajang di rumah sakit, dan tiles tambahan yang terus ditambahin sama pengunjung .
Dr Jaxon Kramer dari CAMHS bilang: “Dampak paling bermakna dari program ini adalah anak-anak muda bisa ninggalin jejak. Mereka bisa ninggalin pernyataan lembut bahwa mereka pernah ada di sini dan mereka ngerjain ini” . Rumah sakit itu serem. Tapi mural ini bikin tempat itu terasa sedikit lebih manusiawi.
Yang Sering Kita Salah Pahami
Pertama, mikir collaborative art itu cuma “banyak orang gambar bareng.” Padahal intinya bukan jumlah. Intinya adalah proses berbagi kendali. Di Rembang, petani garam nggak cuma jadi objek foto. Mereka diajak mikir konsep, milih tema, dan eksekusi . Di Chase Farm, pasien nggak cuma “diwarnain” tapi diajak ngobrol soal hidup mereka sebelum gambar . Kalau kolaborasinya cuma formalitas, hasilnya bakal terasa hambar.
Kedua, nganggep kolaborasi digital nggak “sepersonal” yang fisik. Mungkin iya, mungkin nggak. Tapi coba pikir: 11 ribu orang dari 141 negara, masing-masing nyumbang satu kotak kecil dari wajah mereka sendiri, buat jadi bagian dari karya yang udah berumur 500 tahun. Itu semacam legacy. Sesuatu yang bakal lo tunjukin ke anak lo nanti: “Nih, ayah/ibu dulu ikut bikin ini” .
Ketiga, lupa bahwa kolaborasi butuh ruang aman. Mural di rumah sakit jiwa bisa jalan karena ada art therapist yang jaga ruangnya. Kalau asal kumpulin orang dan suruh gambar, yang ada malah canggung atau ada yang mendominasi. Fiona Grainger bilang grupnya jadi “ruang aman” karena ada struktur dan kepercayaan . Tanpa itu, kolaborasi cuma jadi proyek kelompok biasa.
Kalau Lo Mau Mulai, Ini yang Bisa Lo Lakuin
Mulai dari lingkaran terdekat. Lo nggak perlu langsung bikin proyek 11 ribu orang. Coba ajak tiga atau lima teman buat bikin zine bareng. Atau mural kecil di tembok kamar kos. Atau playlist kolaboratif yang tiap orang nyumbang satu lagu dan satu cerita. Yang penting: ada sesuatu yang dibikin bersama, bukan cuma di-share.
Cari program yang terbuka. Banyak komunitas seni lokal yang rutin bikin proyek partisipatif. Di Indonesia, kolektif kayak Bunyi Cicak dan Pitu Sinema di Mamuju, misalnya, pernah bikin lukisan kolaboratif yang menghubungkan pesisir, gunung, dan sungai . Cek media sosial mereka. Siapa tau ada open call.
Kalau bikin proyek sendiri, tentuin aturan mainnya dari awal. Siapa yang pegang keputusan akhir? Gimana cara ngasih masukan? Apa yang boleh dan nggak boleh diubah? Ini penting banget. Kolaborasi yang gagal biasanya bukan karena orangnya nggak berbakat, tapi karena ekspektasinya nggak jelas dari awal.
Dan yang paling penting: jangan takut karya lo “berubah.” Dalam kolaborasi, hasil akhirnya nggak akan persis kayak yang lo bayangin. Mungkin malah lebih bagus. Mungkin juga lebih aneh. Tapi justru di situ letak serunya. Lo nggak cuma bikin karya. Lo bikin sesuatu yang nggak mungkin lo bikin sendiri.
Jadi, Buat Siapa Seni Ini?
Collaborative art di 2026 ngajarin kita satu hal: seni nggak harus jadi barang mewah yang dipajang di galeri dan dijaga satpam. Dia bisa jadi lukisan garam di tambak. Bisa jadi mural di rumah sakit. Bisa jadi mosaik digital yang nyambungin orang dari 141 negara.
Dan yang paling penting, dia bisa jadi milik bersama. Bukan karena hak ciptanya publik, tapi karena prosesnya melibatkan banyak orang, dan hasilnya ngomong sesuatu tentang mereka semua.
Jadi, kapan lo mau bikin sesuatu bareng orang lain? Bukan buat pamer. Tapi buat ngerasain bahwa karya yang lo bikin, sekecil apa pun, bisa jadi lebih besar dari lo sendiri.