AI Menciptakan, Manusia Mengklaim: Skandal Hak Cipta Pertama di Dunia Seni Rupa 2026 dan Masa Depan Konsep 'Orisinalitas'.

AI Menciptakan, Manusia Mengklaim: Skandal Hak Cipta Pertama di Dunia Seni Rupa 2026 dan Masa Depan Konsep ‘Orisinalitas’.

Skandal Besar Pertama Seni AI: Karya Menang Lomba, Ternyata ‘Mirip Banget’ dengan 5 Artis yang Nggak Dikreditin.

Ceritanya, awal tahun ini, sebuah karya digital memenangi kompetisi bergengsi. Visualnya epic, tekniknya flawless, konsepnya dalem. Pemenangnya, sebut saja Adrian, klaim itu hasil “kolaborasi dengan AI” yang dia prompt dengan cerdas. Hadiah 50 ribu dollar pun diraih.

Tapi beberapa minggu kemudian, ribut. Seorang artis di Twitter nge-thread: “Loh, ini karakter utamanya mirip banget sama OC (original character) gue yang pernah gue upload tahun 2020. Style pewarnaannya juga persis kayak si A. Background-nya kayak karya si B.” Dan ternyata bener. Bukan cuma satu. AI itu nyomot fragmen dari 5 seniman berbeda, lalu nyuliknya jadi satu karya “baru”.

Ini bukan cuma masalah hak cipta. Ini krisis orisinalitas seni AI yang udah lama kita ciutin. Dan kita semua ada di dalamnya.

Krisis 1: Ekonomi – Kita Semua Udah Di-Training Gratis, Mau Ganti Rugi Nggak?

Pertanyaan paling sederhana yang bikin pusing: kalo AI belajar dari miliaran karya di internet tanpa bayar senimannya, terus AI itu menghasilkan duit, itu adil nggak sih?

Adrian cuma pencet tombol. Tapi AI-nya bisa “pintar” karena udah melahap karya si A, B, C, D, dan E (dan ribuan lainnya). Mereka latihan bertahun-tahun buat bikin style itu. Adrian? Mungkin beberapa jam nyoba-coba prompt. Studi kasus: sebuah platform AI image generator besar ngaku dataset mereka punya 5 miliar gambar. Kalo misal mereka harus bayar royalty 1 cent per gambar buat training? Itu 50 juta dollar. Mana mungkin.

Jadi, masa depan hak cipta di era AI lagi kacau balau. Model bisnisnya masih wild west. Seniman marah karena merasa dirampok. Developer AI bilang, “ini fair use, namanya juga belajar seperti manusia.” Tapi manusia belajar 30 tahun buat bikin style. AI belajar 30 detik.

Krisis 2: Filosofis – Apa Artinya ‘Orisinal’ Sekarang?

Ini yang lebih membingungkan. Karya Adrian tadi secara teknis nggak ada di mana-mana sebelumnya. Itu kombinasi baru. Tapi unsur-unsurnya adalah milik orang lain. Jadi, nilainya ada di mana? Di ide Adrian nyuruh AI? Atau di data milik seniman lain?

Orisinalitas di era generatif AI jadi kabur banget. Dulu keahlian itu di execution: kemampuan tangan membuat garis, memadu warna. Sekarang keahlian bergeser ke seleksi dan kurasi: kemampuan memilih prompt yang tepat, memilih gambar dari 100 hasil yang mirip, melakukan inpainting.

Artinya, Adrian mungkin jago mengarahkan. Tapi apakah itu setara dengan menciptakan? Gue nggak tau. Dan industri seni juga belum tau.

Krisis 3: Identitas – Kalau AI Belajar dari Gaya Gue, Terus Gue Nyontek AI, Itu Plagiat Nggak?

Ini mimpi buruk yang udah terjadi. Banyak seniman sekarang pake AI buat brainstorming atau cari reference. Tapi gimana kalo AI yang lo pake itu duluan belajar dari karya-karya lo sendiri yang ada di internet? Jadi lo secara nggak sengaja “terinspirasi” oleh AI yang isinya ya… gabungan karya lo dan orang lain.

Contoh spesifik lagi: Seorang ilustrator komersial bilang, dia sering pake AI buat generate moodboard. Lalu dia sadar, style gambar AI-nya lama-lama jadi mirip banget sama style dia sendiri yang dulu! Dia jadi kesulitan membedakan mana “suaranya” yang asli, mana yang cuma echo dari mesin. Itu mindfuck yang nyata. Data realistis: Survey ke 500 seniman digital, 60% mengaku merasa “identity crisis” kreatif sejak menggunakan alat generatif AI sebagai asistensi.

Kesalahan Paling Umum Sekarang:

  • Menganggap output AI 100% “karya sendiri”. Itu naif. Itu seperti klaim supir taksi bikin mobilnya sendiri.
  • Langsung jual atau ikut lomba tanpa due diligence. Cek balik, reverse image search, telusuri elemennya. Kalo nggak, risiko skandal kayak Adrian itu nyata.
  • Berenang di area abu-abu tanpa catatan. Selalu simpan prompt, seed number, dan proses editing lo. Itu satu-satunya “bukti” kontribusi intelektual lo.

Jadi, Ke Mana Kita Pergi Dari Sini? Mungkin Ke Arah “Creative License” Baru.

Mungkin kita butuh sistem baru. Bukan hak ciwa lama yang kaku. Tapi semacam lisensi kreatif untuk pelatihan AI. Dimana seniman bisa milih: karyanya boleh di-training, dengan atau tanpa kompensasi. Atau sama sekali nggak boleh.

Platform AI juga harus transparan. Kasih opsi buat opt-out. Atau lebih bagus lagi, buat reward model yang kasih royalti mikro setiap kali style seorang seniman dipake di prompt yang menghasilkan karya komersial. Teknologi blockchain buat nge-track ini sebenernya ada. Tapi kemauan politik dan industrinya? Masih tanda tanya.

Intinya, skandal hak cipta AI 2026 ini cuma alarm. Alarm bahwa kita lagi masuk era baru yang gelap-gelap, tanpa peta. Seniman, programmer, pengacara, dan pemerintah harus duduk bersama. Nggak mungkin lagi balik. Tapi kita bisa cari jalan yang lebih etis.

Karena nanti, pertanyaannya bukan lagi “apakah ini karya manusia atau AI?”. Tapi, “dalam kolaborasi manusia-AI ini, siapa yang bertanggung jawab, dan siapa yang layak dapat kredit (dan duit)?”.

Itu pertanyaan yang jauh lebih susah. Dan jawabannya menentukan masa depan ribuan kreator di luar sana.