Seni Jalanan Bukan Lagi Sekadar Vandalisme: Kenapa Mural dan Graffiti Jadi Identitas Generasi Muda di 2026?

Seni Jalanan Bukan Lagi Sekadar Vandalisme: Kenapa Mural dan Graffiti Jadi Identitas Generasi Muda di 2026?

Lo pernah nggak sih lewat di gang sempit, temboknya penuh coretan nggak jelas, terus mikir “ini seni atau sampah?” Tenang, gue juga pernah. Dan mungkin sampai sekarang pun lo masih bingung bedanya. Tapi di 2026, pertanyaan itu makin relevan—karena garis antara mural dan vandalisme makin tipis, tapi juga makin sering dibahas. Anak muda sekarang nggak cuma nge-tag temen di Instagram, mereka juga nge-tag tembok kota dengan karya. Entah itu legal atau nggak.

Yang menarik, tahun ini kita lihat banyak banget momen di mana seni jalanan jadi pusat perhatian. Bukan cuma soal estetika, tapi soal identitas, konflik, dan bahkan diplomasi. Mau tau gimana ceritanya?

Batu Buka Tembok, Bukan Buat Vandalisme

September 2026, Pemerintah Kota Batu ngasih kejutan. Mereka resmi ngasih tembok Pasar Induk Among Tani buat seniman mural dan graffiti . Wali Kota Nurochman bahkan ikut gambar daun hijau sebagai simbol awal. Tujuannya? Bukan cuma mempercantik kota, tapi menekan angka vandalisme liar yang beberapa waktu terakhir meresahkan.

Logikanya sederhana tapi sering dilupakan: kalau anak muda nggak punya ruang buat berkarya, ya mereka bikin ruang sendiri. Di tempat yang nggak seharusnya. Akhmad Kholili dari komunitas Boys From The Hill bilang begini: “Teman-teman, terutama pelaku vandal itu kurang apresiasi” . Jadi daripada ngejar-ngejar mereka yang coret-coret tembok orang, mending kasih tembok yang jelas statusnya. Keren kan?

Pemkot Batu nggak main-main. Mereka nggak cuma buka satu lokasi, tapi delapan titik ruang kreatif—dari Alun-alun sampai Hutan Kota Bondas . Ini bukan sekadar proyek iseng. Ini pengakuan bahwa seni jalanan punya tempat di ruang publik, asal ada kesepakatan.

Tapi… Ada Juga yang Salah Langkah

Nah, di sinilah plot twist-nya. Bulan Agustus 2026, Malang dihebohkan sama insiden mural yang bikin banyak orang naik darah. Mural ikonik “Malang The Glory Land” di Jalan Arif Rahman Hakim—dibuat tahun 2016 oleh mendiang Hari Sucahyo, tokoh Aremania—ditimpa sama tulisan “Malang Menyala Bersama” . Pelakunya? Panitia Festival Mbois 11, Malang Creative Fusion (MCF).

Bayangin. Mural itu udah jadi bagian dari identitas kota. Bukan cuma gambar, tapi simbol perjalanan Malang dari era kerajaan sampai modern, lekat sama Arema dan harapan warganya . Terus tiba-tiba ada komunitas kreatif lain yang tanpa komunikasi menimpanya pakai cat putih-kuning buat promosi festival. Rasanya kayak ada yang nginjak kenangan lo terus bilang “eh, ini buat iklan ya.”

Reaksinya? Viral. Aremania Utas buka suara. Wakil Wali Kota Malang, Ali Muthohirin, ikut mengecam. Katanya: “Jangan segelintir sekelompok orang merasa paling kreatif terus kemudian tidak menghargai kreativitas yang lain” . Keras. Tapi perlu.

MCF akhirnya minta maaf. Dadik Wahyu, koordinatornya, bahkan sampai ngomong pakai bahasa Jawa di video: “Aku njaluk sepuro seng akeh… Aku gak eroh, aku gak ngerti” . Mural “Malang Menyala” kemudian ditutup cat biru, dan janjinya bakal digambar ulang “Malang The Glory Land” . Tapi tetap aja, beberapa netizen bilang kalau digambar ulang pun, itu udah bukan karya orisinal lagi .

Pelajaran dari sini? Seni jalanan itu soal hormat. Bukan cuma soal siapa yang punya tembok, tapi siapa yang punya cerita di tembok itu. Kalau lo mau bikin karya di atas karya orang lain, apalagi yang udah jadi simbol komunitas, komunikasi itu wajib. Bukan opsional.

Graffiti Indonesia Udah Mendunia, Lho

Sekarang sisi yang bikin bangga. Mei 2026, Karanganyar, Jawa Tengah, jadi tuan rumah Meeting of Styles (MOS) 2026. Ini bukan festival biasa. Ada 50 seniman graffiti senior dari 19 negara—Rusia, Yunani, Australia, India, Jepang, Korea Selatan, Thailand, dan masih banyak lagi . Mereka datang bukan buat lomba, tapi buat kolaborasi. Tema tahun ini: “Togetherness,” sebagai respons terhadap situasi geopolitik dunia yang makin memanas .

Yang bikin gue bangga, acara ini digelar di Belazo Art Space, fasilitas milik PT Indaco Warna Dunia—produsen cat aerosol lokal. Jadi sambil seniman internasional bikin karya, mereka juga nge-test produk Indonesia langsung di tembok. Hasilnya? Sejak 2024, Belazo udah ekspor ke berbagai negara . Jadi bukan cuma seninya yang mendunia, catnya juga.

Di Batam, April 2026, Batam International Graffiti Festival juga digelar. 25 seniman dari Indonesia, Thailand, Turki, dan Prancis ngubah Nagoya Citywalk jadi galeri terbuka . Festival ini bukan cuma soal estetika, tapi juga dorong pertumbuhan industri kreatif dan daya tarik wisata di kawasan perbatasan .

Dan di Jakarta, Juni 2026, Wall of Jakarta di M Bloc Space ngumpulin 13 seniman urban. Salah satunya NSANE5, yang udah bikin graffiti tipografi sejak tahun 2000 dan pernah kolaborasi di Prancis. Dia milih nyembunyiin identitas aslinya karena pengen publik fokus ke karyanya, bukan ke dirinya . Itu level dedikasi yang bikin gue mikir: seberapa banyak dari kita yang benar-benar serius sama karya sendiri?

Jadi, Apa Bedanya Mural dan Vandalisme?

Ini pertanyaan yang mungkin masih ngeganjel di kepala lo. Jawabannya nggak sesederhana “legal vs ilegal.” Tapi setidaknya ada beberapa garis yang bisa kita tarik.

Izin dan Konteks. Mural biasanya dibuat dengan izin pemilik tembok atau pemerintah, dan seringkali membawa pesan tertentu—lingkungan, edukasi, identitas kota . Vandalisme? Nggak ada izin, nggak ada konteks. Cuma coretan di tempat yang nggak semestinya.

Niat dan Eksekusi. Mural butuh perencanaan. Sketsa, konsep, kolaborasi. Lihat aja proses di Batu: Wali Kota gambar daun dulu, baru seniman lanjut . Atau di Wall of Jakarta, panitia bahkan minta warna oranye dominan biar ada nuansa Jakarta . Vandalisme? Spontan, cepat, kadang nggak mikir dampak.

Dampak ke Masyarakat. Mural yang baik bikin lingkungan lebih hidup. Grebek Tembok di Depok, Juli 2026, ngubah tembok kusam di Gang KUD jadi karya warna-warni. Ketua Karang Taruna setempat bilang ini juga jadi ajang silaturahmi dan inspirasi buat generasi muda . Vandalisme? Seringkali bikin resah, dan ujung-ujungnya harus dibersihin pakai duit publik.

Tapi… ada satu hal yang sering dilupakan. Nggak semua graffiti ilegal itu buruk. Banyak seniman besar mulai dari tembok jalanan tanpa izin. NSANE5, misalnya, udah berkarya sejak 2000 dan sekarang diundang ke festival internasional . Jadi mungkin yang perlu kita ubah bukan cuma perilaku senimannya, tapi juga sistem yang seringkali nggak nyediain ruang buat mereka.

Yang Sering Kita Salah Pahami

Pertama, nganggep semua graffiti itu vandalisme. Padahal di Batu, justru pemerintah yang ngasih ruang buat graffiti . Di Karanganyar, graffiti jadi ajang diplomasi budaya . Konteksnya beda-beda. Jangan langsung judge.

Kedua, mikir seni jalanan itu cuma buat “anak nakal.” Lihat aja MOS 2026: 50 seniman senior dari 19 negara. Mereka bukan remaja iseng. Mereka profesional yang udah puluhan tahun berkarya . Kalau lo masih mikir graffiti itu identik sama preman, mungkin lo perlu buka mata lebih lebar.

Ketiga, ngerasa karya sendiri paling berharga. Insiden Malang ngajarin kita bahwa arogansi itu mahal. MCF mungkin punya niat baik—promosi festival—tapi caranya nginjak karya orang lain bikin mereka kehilangan respek . Dalam seni jalanan, reputasi itu segalanya. Sekali lo salah langkah, komunitas bisa mengingatnya lama.

Kalau Lo Mau Mulai, Ini yang Bisa Lo Lakuin

Cari ruang yang jelas statusnya. Banyak kota sekarang punya area khusus buat mural dan graffiti. Batu punya 8 lokasi . Jakarta punya M Bloc Space . Cek dulu, jangan asal semprot.

Kalau mau bikin di atas karya orang lain, tanya dulu. Ini sederhana tapi sering dilupakan. Mural “Malang The Glory Land” itu udah umur 10 tahun. Bayangin kalau MCF cuma nanya baik-baik, mungkin ceritanya bakal beda.

Bangun portofolio, bukan cuma coretan. Seniman yang diundang ke MOS atau Batam Festival punya karya yang bisa dipertanggungjawabkan. Mereka nggak cuma “bikin rame,” tapi punya gaya, pesan, dan konsistensi. Mulai dari tembok kecil, foto, dokumentasi, terus naik level.

Dan yang paling penting: hormati proses. Seni jalanan itu bukan cuma soal hasil akhir. Prosesnya—dari nyari tembok, ngobrol sama warga, sampai berjam-jam di bawah matahari—itu yang bikin karya punya jiwa. Kalau lo cuma mau instan, mungkin lo salah medium.

Jadi, Seni atau Vandalisme?

Jawabannya ada di tangan lo. Literally. Tembok yang lo lihat setiap hari itu bisa jadi kanvas atau cuma jadi sumber masalah. Bedanya bukan cuma soal izin, tapi soal niat, hormat, dan kesadaran bahwa ruang publik itu milik bersama.

Di 2026, anak muda udah buktiin bahwa mural dan graffiti bisa jadi identitas, diplomasi, bahkan industri. Tapi di saat yang sama, kita juga diingetin bahwa seni jalanan punya aturan main. Bukan aturan tertulis, tapi kode etik yang lahir dari komunitas itu sendiri.

Jadi, kalau lo punya bakat dan ide, jangan cuma diem. Cari tembok yang tepat. Ngobrol sama yang punya. Bikin karya yang nggak cuma keren, tapi juga berarti. Karena di dunia yang makin digital ini, coretan di tembok justru bisa jadi salah satu hal paling nyata yang bisa kita tinggalkan.

Gimana, udah siap bikin tembok lo sendiri?