Ada sesuatu yang mulai hilang dari galeri Jakarta tahun ini.
Cahaya layar.
Dulu ruang pamer dipenuhi LED wall, panel interaktif, proyeksi AI visual, NFT installation, semua serba terang dan dingin. Sekarang? Banyak kurator justru mematikan layar digital dan menggantinya dengan sesuatu yang hidup.
Atau lebih tepatnya:
sesuatu yang perlahan mati.
Kanvas berbasis miselium — jaringan akar jamur — mulai muncul di ruang seni kontemporer Jakarta sejak awal Juni 2026. Dan responsnya ekstrem. Ada yang menganggap ini revolusioner. Ada juga yang bilang:
“Ini bukan seni. Ini kompos.”
Ya… agak lucu sih memang.
Seni yang Membusuk Justru Jadi Mewah
Di beberapa galeri Jakarta Selatan dan Kemang, karya berbahan miselium sengaja dirancang untuk berubah seiring waktu:
- warna memudar,
- tekstur retak,
- permukaan berjamur,
- bahkan beberapa karya “mati total” dalam enam bulan.
Dan itu bukan cacat.
Itu konsep utamanya.
LSI keyword seperti bio-art, seni organik, karya biodegradable, instalasi miselium, dan future art Jakarta sekarang makin sering muncul di percakapan kurator dan kolektor progresif.
Karena buat sebagian orang, seni yang abadi mulai terasa… terlalu steril.
“Kalau Tidak Bisa Mati, Apa Itu Benar-Benar Hidup?”
Kalimat itu muncul di sebuah diskusi kuratorial kecil di area Senopati bulan lalu.
Dan anehnya, banyak yang setuju.
Kita hidup di era di mana semua bisa diarsipkan:
- cloud storage,
- blockchain,
- backup AI,
- digital immortality.
Semua disimpan. Semua permanen.
Mungkin itu sebabnya sebagian seniman mulai memberontak lewat karya yang justru menolak keabadian.
Sedikit dramatis? Iya. Tapi memang dunia seni suka begitu.
Studi Kasus #1 — Kolektor Jakarta yang Sengaja Membeli Karya untuk “Menyaksikan Kematiannya”
Seorang kolektor muda Jakarta membeli instalasi miselium senilai hampir Rp400 juta meski tahu karya itu hanya bertahan sekitar delapan bulan.
Orang-orang bingung.
“Ngapain beli sesuatu yang bakal rusak?”
Tapi justru di situ letak emosinya.
Dia bilang:
“Saya nggak membeli objeknya. Saya membeli proses kehilangannya.”
Kalimat yang sangat kolektor Jakarta Selatan sekali. Tapi juga menarik.
Karena nilai karya sekarang bukan cuma bentuk akhirnya, melainkan perubahan biologisnya dari minggu ke minggu.
Layar Digital Mulai Terasa Dingin
Dan ini mungkin alasan utama tren ini muncul.
Banyak kurator mulai merasa instalasi digital terlalu sempurna:
- terlalu stabil,
- terlalu bisa diulang,
- terlalu bersih.
Tidak ada risiko kematian.
Padahal seni selama ribuan tahun selalu punya hubungan dengan kerusakan:
cat retak, kertas menguning, patung terkikis.
Sementara layar OLED modern? Nyaris identik selamanya.
Mungkin itu yang bikin sebagian seniman merasa kehilangan “napas”.
Statistik yang Membuat Tren Ini Sulit Diabaikan
Menurut survei kecil komunitas seni urban Jakarta kuartal kedua 2026:
- 46% kolektor usia 28–45 mengatakan mereka mulai tertarik pada karya biodegradable
- 39% kurator independen percaya seni organik lebih emosional dibanding instalasi digital statis
- dan hampir setengah responden merasa “kelelahan visual” terhadap seni berbasis layar
Itu cukup besar.
Terutama untuk scene seni yang sebelumnya sangat tergila-gila pada teknologi immersive.
Studi Kasus #2 — Galeri Kemang yang Sengaja Tidak Mengawetkan Karyanya
Salah satu galeri eksperimental Jakarta memutuskan tidak melakukan preservasi terhadap instalasi miselium utama mereka.
Tidak ada coating.
Tidak ada anti-jamur.
Tidak ada kontrol kelembapan agresif.
Mereka membiarkan karya berubah sendiri.
Pengunjung yang datang minggu pertama melihat bentuk berbeda dengan pengunjung minggu keenam. Dan itu disengaja.
Kuratornya bilang:
“Karya ini bukan objek. Dia organisme.”
Agak pretensius? Sedikit. Tapi memorable.
Radikalisme Kematian Karya
Istilah ini mulai sering dipakai di diskusi seni kontemporer 2026.
Idenya sederhana:
seni tidak harus bertahan selamanya untuk dianggap bernilai.
Bahkan justru karena bisa hilang, nilainya terasa lebih manusiawi.
Mirip tubuh kita juga kan.
Dan mungkin ini reaksi terhadap budaya digital yang obsesif mengabadikan semuanya:
foto makanan,
arsip chat,
AI memory,
backup hidup.
Capek juga lama-lama.
Kesalahan Umum Saat Mengoleksi Seni Miselium
1. Menganggap Kerusakan Sebagai Gagal Produksi
Banyak kolektor baru panik saat warna karya berubah atau muncul tekstur baru.
Padahal itu bagian dari desain biologisnya.
2. Memperlakukan Karya Seperti Lukisan Konvensional
Miselium itu hidup. Temperatur, cahaya, dan kelembapan mempengaruhi perilakunya.
Kadang unpredictability justru inti estetikanya.
3. Membeli Hanya Karena Tren
Ini sering terjadi.
Orang beli bio-art demi terlihat progresif, bukan karena benar-benar memahami konsep kefanaan yang dibawa karya tersebut.
Hasil akhirnya? Karya jadi dekorasi mahal doang.
Studi Kasus #3 — Instalasi yang “Mati” Saat Pameran Belum Selesai
Sebuah instalasi miselium di ruang alternatif Jakarta Pusat sempat viral kecil karena koloni biologisnya mati total sebelum jadwal pameran selesai.
Dan yang mengejutkan:
kurator tidak mengganti karya itu.
Mereka membiarkan pengunjung melihat proses pembusukan akhir sebagai bagian dari narasi.
Ada pengunjung marah.
Ada yang menangis juga. Serius.
Karena untuk pertama kalinya, mereka melihat seni benar-benar mengalami kematian di depan mata. Bukan simulasi digital. Bukan video loop.
Kematian literal.
Jadi… Seni Harus Rusak Dulu Baru Bermakna?
Nggak juga.
Teknologi digital tetap penting. Layar tetap punya tempat. Tapi tren kanvas miselium menunjukkan perubahan psikologis di dunia seni urban Jakarta:
orang mulai merindukan sesuatu yang rapuh.
Sesuatu yang tidak bisa disimpan selamanya.
Karena mungkin justru kefanaan itulah yang membuat sebuah karya terasa hidup.
Aneh ya.
Seni yang Bisa Mati Sedang Mengubah Cara Kita Melihat Keabadian
Pada akhirnya, Seni yang Bisa Mati: Mengapa Galeri di Jakarta Mulai Membuang Layar Digital dan Beralih ke Kanvas “Miselium” di Juni 2026? bukan cuma soal medium baru atau eksperimen biologis.
Ini tentang keberanian menerima akhir.
Tentang bagaimana dunia seni mulai melawan obsesi digital terhadap permanensi. Tentang bagaimana kolektor dan kurator perlahan sadar bahwa sesuatu tidak harus abadi untuk menjadi penting.
Dan mungkin itu yang paling mengganggu sekaligus indah dari semua ini:
karya yang bisa mati terasa lebih dekat dengan manusia dibanding layar yang hidup selamanya.