Seni yang Terancam Hilang: Kenapa Generasi Muda Mulai Melupakan Kesenian Tradisional di 2026?

Seni yang Terancam Hilang: Kenapa Generasi Muda Mulai Melupakan Kesenian Tradisional di 2026?

Coba lo pikirin sebentar. Kapan terakhir kali lo nonton wayang, dengerin gamelan, atau liat pertunjukan tari tradisional? Kalau jawabannya “pas SD dulu, itu juga karena tugas sekolah,” lo nggak sendirian. Dan itu bukan berarti lo nggak cinta budaya. Mungkin memang nggak ada kesempatannya. Atau nggak ada yang ngajak. Atau… memang udah nggak ada panggungnya lagi.

Di 2026, kita lagi di titik aneh. Di satu sisi, museum dan festival seni jalanan rame banget dikunjungi anak muda. Tapi di sisi lain, kesenian tradisional yang jadi akar dari semua itu justru makin sepi peminat. Bukan karena generasi muda benci budaya sendiri. Tapi karena ada banyak hal yang bikin jaraknya makin lebar.

Gamelan yang Nyaris Bisu

Ambil contoh Madurejo, Sleman. Dua tahun lalu, tahun 2024, desa itu hampir kehilangan gamelannya sama sekali. Dari sembilan perangkat gamelan yang tersebar di 16 padukuhan, cuma satu kelompok—Karawitan Madularas—yang masih menabuh. Itu pun anggotanya mayoritas udah berusia di atas 70 tahun .

Bayangin. Alat musiknya ada. Temboknya ada. Tapi yang bisa mainin udah tua-tua. Dan anak mudanya? Nggak tertarik. Hartoto Wahyudi, Sekretaris Lurah Madurejo, bilang terus terang: “surutnya kegemaran masyarakat, khususnya anak muda, terhadap budaya gamelan” itu jadi masalah yang bukan cuma lokal, tapi nasional .

Untungnya, ada secercah harapan. Pengurus Desa Budaya mulai bikin program pelatihan dari anak usia dini sampai dewasa. Pelan-pelan, suara gamelan mulai terdengar lagi di beberapa dusun . Tapi ini butuh kerja ekstra. Bukan cuma satu desa, tapi hampir di semua daerah.

Saronen: Ketika Maestro Menua dan Nggak Ada yang Gantiin

Pindah ke Madura. Seni musik Saronen, alat tiup khas Pamekasan, juga di ujung tanduk. Arief Wibisono dari Dewan Kesenian Pamekasan bilang sebagian besar peniup Saronen sekarang udah lanjut usia. “Kalau sampai kehilangan regenerasi bisa punah,” katanya .

Yang bikin susah, Saronen bukan alat musik yang bisa dipelajari semalam. Butuh teknik pernapasan tinggi. Butuh kedalaman rasa buat menjiwai suluk dan akar budayanya . Jadi nggak cukup cuma “tertarik.” Harus ada dedikasi. Dan itu yang makin langka.

Belum lagi soal panggung. Arief bilang keterbatasan ruang pertunjukan jadi tantangan utama. Tanpa panggung, seniman cuma latihan di sanggar. Nggak ada yang nonton. Nggak ada yang kenal. Dan lambat laun, semangatnya pudar .

Tari Melayu yang Kehilangan Ruang

Di Medan, ceritanya mirip tapi beda konteks. Datok Irfansyah, pendiri Sanggar Nusindo Persada, bilang generasi muda sebenarnya nggak bisa disalahkan sepenuhnya kalau mereka nggak kenal tari tradisi Melayu. Dulu, ada Pekan Budaya Melayu yang jadi ajang penari muda belajar Japin, Hadrah, Tari Inai—semuanya. Sekarang? Kesempatan kayak gitu makin jarang .

“Generasi muda sebenarnya memiliki ketertarikan terhadap tari tradisi apabila diberikan kesempatan untuk melihat dan mempelajarinya,” kata Datok . Jadi masalahnya bukan selera. Masalahnya akses. Kalau nggak pernah liat, gimana mau tertarik?

Data yang Bikin Kita Sadar

Ada penelitian dari Universitas Tarumanagara yang ngecek minat generasi muda Jakarta (17-25 tahun) terhadap wayang. Hasilnya? 94% responden tahu apa itu wayang. Tapi cuma 19,6% yang pernah nonton pertunjukan langsung .

Tahu, tapi nggak pernah ngalamin. Itu jarak yang巨大. Wayang udah diakui UNESCO sejak 2003. Tapi buat anak muda sekarang, dia lebih sering jadi nama di buku sejarah daripada tontonan yang bikin kagum.

Penelitian itu juga nemuin sesuatu yang penting: mayoritas responden tertarik belajar budaya tradisional lewat platform digital—aplikasi mobile, video, storytelling, atau fitur interaktif kayak kuis dan augmented reality . Jadi bukan mereka nggak mau. Mereka cuma mau dengan cara mereka sendiri.

Tapi Ada Juga yang Berhasil

Jangan salah. Ada beberapa tempat di mana api itu masih nyala. Dan biasanya, yang berhasil adalah yang berani ngubah pendekatan.

Di Madiun, Valentino Satria Wibowo, pegiat seni tari sekaligus mahasiswa UNIPMA, punya strategi simpel tapi efektif: masukin unsur viral ke dalam pertunjukan tradisional. Lagu-lagu yang lagi trending. Gerakan yang lagi rame di TikTok. “Tren-tren yang sedang populer bisa dimasukkan ke dalam pertunjukan seni tradisional,” katanya .

Tapi dia juga tegas: unsur viral cuma pintu masuk. “Tidak harus meninggalkan pakem tradisional. Kita hanya mengkreasikan sedikit agar lebih dekat dengan generasi muda” . Jadi bukan murahan. Bukan asal ikut tren. Tapi jembatan.

Di Semarang, Tirang Community udah melakukannya sejak 2005. Mereka mengenalkan budaya lewat teater, tari, dan musik, tapi juga memanfaatkan media sosial. Mereka melestarikan Ketoprak Truthuk—kesenian khas Semarang yang pakai kentongan sebagai pengiring—dan pernah tampil di festival nasional . Bukti bahwa tradisi dan modernitas nggak harus saling bunuh.

Yang Sering Kita Salah Pahami

Pertama, nyalahin generasi muda doang. Padahal riset bilang minat itu ada. Yang nggak ada adalah akses, panggung, dan paparan. Kalau lo nggak pernah dikenalin, gimana mau cinta? Kalau nggak pernah ada pertunjukan di deket lo, gimana mau nonton?

Kedua, mikir “tradisional” berarti “kuno”. Banyak yang masih nganggep kesenian tradisional itu identik dengan kuno, membosankan, dan nggak relevan. Padahal, gamelan itu dasarnya musik polifonik yang kompleks. Tari Melayu punya gerakan yang lembut dan penuh makna. Wayang itu storytelling tingkat dewa. Masalahnya cuma kemasan dan konteks, bukan substansi.

Ketiga, ngarepin pemerintah doang yang gerak. Program pelatihan, festival, dan ruang pertunjukan memang penting. Tapi tanpa partisipasi aktif dari komunitas—termasuk anak muda—semua itu cuma acara seremonial. Tirang Community jalan karena ada orang-orang yang mau latihan rutin dan tampil, bukan cuma nunggu undangan.

Keempat, lupa bahwa pelestarian itu bukan berarti membekukan. Lestari Moerdijat dari MPR bilang pelestarian nggak berarti membekukan tradisi, melainkan memastikan kebudayaan tetap hidup, berkembang, dan relevan . Jadi nggak apa-apa kalau ada sentuhan baru. Yang penting akarnya nggak dicabut.

Kalau Lo Mau Ikut Ngelestariin, Mulai Dari Sini

Cari yang paling deket sama lo. Nggak perlu langsung belajar wayang semalam suntuk. Mulai dari yang paling accessible. Ada nggak sanggar tari atau karawitan di kotamu? Cek media sosial mereka. Banyak komunitas sekarang aktif posting jadwal latihan dan pertunjukan. Lo bisa datang buat nonton dulu, sebelum ikut latihan.

Konsumsi konten tradisional di platform yang lo pakai. Kalau lo lebih sering di TikTok, cari akun-akun yang bikin konten tentang gamelan, tari tradisional, atau wayang. Ada kok. Mungkin nggak seviral dance challenge, tapi cukup buat mulai kenal. Dan siapa tau, lo jadi penasaran buat liat langsung.

Jangan takut “salah.” Banyak anak muda nggak mau nyoba kesenian tradisional karena takut nggak bisa atau takut dibilang kuno. Padahal, seni itu soal proses. Nggak ada yang langsung jago. Dan kalau ada komunitas yang bikin lo ngerasa nggak nyaman, cari yang lain. Tirang Community di Semarang, misalnya, terbuka buat pemula .

Ajak temen. Ini mungkin yang paling penting. Nonton pertunjukan atau ikut workshop sendirian itu bisa canggung. Tapi kalau rame-rame, bisa jadi pengalaman seru. Apalagi kalau abis itu bisa sharing di media sosial. Bukan buat pamer, tapi buat nunjukin bahwa tradisi itu nggak membosankan.

Jadi, Siapa yang Harus Jaga?

Pertanyaan besarnya: kalau bukan kita, siapa? Kalau bukan sekarang, kapan?

Kesenian tradisional nggak bakal hilang dalam semalam. Tapi dia bisa memudar pelan-pelan. Satu maestro meninggal tanpa penerus. Satu panggung ditutup. Satu generasi tumbuh tanpa pernah nonton. Dan tiba-tiba, yang tersisa cuma rekaman di YouTube dan foto di museum.

Di 2026, kita punya teknologi yang bisa bikin AI melukis dan deepfake bikin video palsu. Tapi kita juga punya alat yang sama buat ngangkat gamelan, tari, dan wayang ke generasi baru. Pertanyaannya bukan “apakah kesenian tradisional masih relevan?” Tapi “apakah kita mau bikin dia relevan?”

Jadi, kapan lo mau nonton pertunjukan tradisional? Atau lebih berani lagi: kapan lo mau ikut latihan?